BBC MEDIA.NEWS -SUKABUMI – Sejumlah warga Desa Neglasari, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, menyampaikan kekecewaannya atas pernyataan Sekretaris Kecamatan (Sekmat) Cibadak, Alex Antariksa, S.IP., M.Si, yang menilai pembangunan jembatan di Kampung Caringin masih bersifat swadaya dan bukan untuk kepentingan masyarakat luas.
Alex sebelumnya mengatakan, hasil peninjauannya ke lokasi menunjukkan bahwa jembatan lama yang dibangun pada tahun 2018 masih layak digunakan, terutama untuk pejalan kaki dan kendaraan roda dua.
“Menurut informasi dari pemerintah desa, jalan itu diasumsikan dua peruntukan — pertama sebagai jalan setapak menuju tempat pemakaman umum (TPU), dan kedua untuk aktivitas ekonomi masyarakat. Namun sementara ini kami belum menyimpulkan bahwa jembatan yang sedang dibangun itu untuk kepentingan umum,” kata Alex, Senin (3/11/2025).
// BACA JUGA : LSM ANNAHL ADUKAN PERMASALAHAN YANG ADA DI KOTA/KABUPATEN SUKABUMI KE KOMISI II DPR RI
Pernyataan itu justru memicu reaksi dari warga yang selama ini bergotong royong membangun jembatan baru secara swadaya. Mereka merasa Sekmat seolah tidak memahami kondisi sebenarnya dan justru menyepelekan kebutuhan masyarakat setempat.
“Awalnya kami berharap setelah pihak kecamatan dan pemerintah desa meninjau lokasi, ada perhatian terhadap kondisi jembatan ini. Tapi pernyataannya malah membuat kami kecewa,” ujar salah seorang warga yang enggan disebut namanya.
Warga menegaskan, jembatan lama sudah berkarat dan sempit bagian sampingnya juga ditopang kayu sehingga membahayakan anak-anak sekolah maupun pengguna motor. Karena itu, pembangunan jembatan baru dilakukan secara swadaya agar akses menjadi lebih aman dan ke depan bisa dilalui kendaraan roda empat.
// BACA JUGA : ANGGARAN PEMELIHARAAN SEKOLAH : DIALIHKAN UNTUK BAYAR HUTANG KOMPUTER
“Kami bangun secara gotong royong karena jembatan lama sudah tidak layak. Kalau dibilang hanya untuk ke TPU, itu tidak benar — jalan ini juga dipakai warga setiap hari untuk kegiatan ekonomi,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Neglasari, Ukat Sukatma, menegaskan bahwa jembatan baru yang sedang dibangun bukan merupakan akses jalan umum, melainkan menuju beberapa rumah warga di seberang sungai.
“Di kampung itu hanya ada beberapa rumah saja, dan jembatan yang dibangun itu menuju rumah milik pribadi,” ujarnya di kantor desa, Senin (3/11/2025).
Meski begitu, warga berharap pemerintah kecamatan dan desa tidak menutup mata terhadap semangat gotong royong masyarakat. Mereka meminta agar pernyataan pejabat publik lebih berpihak dan mencerminkan kenyataan di lapangan, bukan sekadar berdasarkan asumsi administratif.
indra/somdani

