BBC MEDIA.NEWS -SUKABUMI – Pada akhirnya, tanah selalu bicara. Ia mungkin diam selama bertahun-tahun, tertimbun beton, disayat ekskavator, disulap menjadi kafe dan villa dengan lampu-lampu yang menyilaukan. Tapi suatu hari, ketika batas kesabarannya habis, tanah akan bersuara. Dan suaranya bukan bisikan.
Suaranya adalah longsor, banjir, tanah bergerak, dan air bah yang menelan rumah, sekolah, dan kehidupan masyarakat kecil yang tidak pernah diajak bicara dalam urusan tata ruang.
// BACA JUGA :SERTIFIKAT WARGA 2 DESA DI SUKABUMI MENJADI JAMINAN DI BANK OLEH KOPRASI DAN TERANCAM TERLELANG
Pembongkaran Hibisc Fantasy di Puncak yang dibangun di atas lahan yang seharusnya dilindungi bukan sekadar pemberitaan harian. Itu adalah peringatan keras. Sebuah sirene yang mengingatkan bahwa alam tidak peduli siapa pemilik modal, siapa pejabat yang meneken izin, atau siapa yang berswafoto di spot instagramable.
Yang alam tahu hanyalah hukum keseimbangannya sendiri: ketika hutan hilang, air tidak lagi tertahan; ketika tanah dicungkil, dia mencari tempat untuk jatuh; ketika bukit dilukai, ia membalas dengan longsor.
Dan kini, di saat masyarakat Indonesia masih berduka atas banjir bandang di Sumatra, longsor yang merenggut rumah-rumah, sekolah yang tertimbun, dan warga yang kehilangan nyawa, kita di Sukabumi seharusnya bertanya:
“Apakah kita sedang menuju arah yang sama?”

// BACA JUGA :Warga Dua Desa di Sukabumi Tuntut Pengembalian Sertifikat Tanah yang Disewa Koperasi Bina Usaha ( KBU ) Sejak 2012
Sukabumi – Daerah Perkebunan yang Mulai Diintip Modal Wisata
Sukabumi selama ini adalah tanah subur:
perkebunan kopi, teh, sayuran, dan hamparan hijau yang menjadi paru-paru wilayah Jawa Barat .
Tetapi kini aroma ancaman mulai terasa.
Banyak pengusaha sudah melirik kawasan perkebunan di Sukabumi untuk disulap menjadi “agrowisata”, “glamping resort”, “cafe view pegunungan”, atau “taman fantasi” – copy paste dari pola yang terjadi di Puncak dan Lembang.
Dan sejarah telah mengajarkan:
” Setiap alih fungsi lahan yang tidak terkontrol hanya membutuhkan satu musim hujan untuk menunjukkan akibatnya ”
Hari ini kita melihat longsor di Caringin, Cicurug.
Esok banjir bandang di Cibadak.
Lusa jalan amblas di Nagrak, pertanian rusak di Gunung Guruh.
Apakah itu kebetulan? Tentu tidak.
Itu adalah pola. Dan pola tidak pernah bohong.
Sukabumi bukan sekadar “lahan kosong yang butuh dikembangkan”.
Sukabumi adalah daerah rawan longsor—secara geologi, topografi, dan sejarah.
Dan ketika perusahaan-perusahaan mulai membeli hektaran lahan perkebunan untuk disulap menjadi tempat wisata, maka pertanyaan besar harus diajukan:
Jika hutan hilang, siapa yang menahan air ketika hujan besar tiba?
Jika bukit dibangun villa, ke mana tanah akan bergerak ketika akar tidak lagi mengikatnya?
Jika perkebunan hilang, siapa yang memberi makan masyarakat?
Jawabannya pahit:
“masyarakat kecil yang akan membayar harga kerusakan, sementara pemilik modal pergi begitu bencana datang”
Hibisc Fantasy : Simbol Ketamakan yang Mengulang Luka Alam
Kasus Hibisc Fantasy di Puncak bukan hanya pelanggaran administrasi.
Ia adalah gambaran jelas bagaimana hasrat segelintir orang untuk mengubah fungsi lahan dapat membawa risiko besar pada ribuan warga di bawahnya.
Bangunan megah, konsep wisata modern, promosi berwarna-warni—semuanya tampak menarik hingga seseorang menyadari:
“Bangunan ini berdiri di atas tanah yang tidak boleh dibangun.”
Dan ketika aparat akhirnya menertibkan lokasi tersebut, itu bukan semata tindakan hukum.
Itu adalah penyelamatan masa depan.
Karena jika dibiarkan, satu proyek akan membuka jalan bagi proyek lain.
Dan ketika bukit-bukit itu runtuh, tidak ada opini publik atau aktor bisnis yang bisa menahan tanah yang sudah kehilangan penopangnya.
Pengusaha, Regulasi, dan Satu Pertanyaan: Untuk Siapa Tanah Ini?
Kini adalah momen yang tepat untuk melihat jauh ke dalam:
Siapa yang sebenarnya menikmati keuntungan dari “pengembangan wisata alam”?
Dan siapa yang menerima risiko bencana?
Ketika pengusaha menerima profit, masyarakat menerima banjir.
Ketika investor mendapat izin, warga mendapat longsor.
Ketika resort berdiri megah, rumah di kampung terendam lumpur.
Ini bukan retorika. Ini realita.
Realita yang sedang dialami Sumatra.
Realita yang terjadi pada Puncak.
Realita yang menunggu Sukabumi jika kita diam.
Opini ini adalah peringatan keras : Sukabumi tidak boleh jatuh ke jurang yang sama.
Sukabumi harus belajar dari Hibisc Fantasy.
Sukabumi harus belajar dari banjir Sumatra.
Sukabumi harus belajar bahwa modal yang serakah tanpa regulasi hanya akan menyisakan derita di hilir.
Pemerintah daerah harus:
- menghentikan alih fungsi lahan perkebunan secara brutal,
- menolak proyek wisata yang tidak memiliki AMDAL kuat,
- meninjau ulang seluruh izin yang mencurigakan,
- mengutamakan keselamatan rakyat dibanding kepentingan modal,
- mengembalikan fungsi ekologis kawasan perbukitan Sukabumi,
- dan melibatkan masyarakat lokal dalam setiap rencana perubahan tata ruang.
Karena jika tidak, maka anak cucu kita akan mewarisi tanah yang tidak lagi aman untuk ditinggali.
Jangan Biarkan Ketamakan Menghancurkan Kebun Mu’
Ketika hujan datang, pohonlah yang menjadi penahan.
Ketika pohon ditebang, tanah menjadi rapuh.
Ketika tanah rapuh, ia akan mencari tempat untuk jatuh.
Dan tempat itu adalah kampung-kampung kita.
Hibisc Fantasy sudah dibongkar.
Sumatra sudah menangis dengan banjir bandangnya.
Jangan biarkan Sukabumi menjadi cerita berikutnya.
Jangan biarkan ketamakan mengubah perkebunan menjadi bencana.
Jangan biarkan uang meruntuhkan bukit, karena ketika bukit runtuh, semua orang merasakan dampaknya.
Inilah opini yang harus kita suarakan bersama:
Tanah bukan sekadar lahan. Tanah adalah kehidupan.
Dan kehidupan tidak boleh dikorbankan demi ego dan keuntungan segelintir orang maupun pengusaha.
ADMIN BBC
