BBC MEDIA.NEWS -SUKABUMI – Banjir besar yang merendam wilayah Sukabumi, luapan air dari kawasan Gunung Gede Pangrango, rob di pesisir Indramayu, serta longsor di sejumlah titik Sumatera Barat menunjukkan pola yang sama: curah hujan tinggi tidak lagi tertampung oleh lingkungan maupun infrastruktur yang ada. Kondisi ini diperparah dengan pesatnya alih fungsi lahan dan pembangunan yang tidak mengikuti analisis dampak lingkungan.
// BACA JUGA :SERTIFIKAT WARGA 2 DESA DI SUKABUMI MENJADI JAMINAN DI BANK OLEH KOPRASI DAN TERANCAM TERLELANG
Di Sukabumi, banjir menerjang dalam hitungan menit, merendam permukiman dan memutus akses jalan utama. Rekaman warga memperlihatkan kendaraan hanyut dan suara kepanikan memenuhi udara. Warga mengaku hujan hanya turun sekitar satu jam, namun debit air yang mengalir dari kawasan pegunungan meningkat drastis.
“Curah hujan memang tinggi, tetapi persoalan utamanya adalah area resapan yang terus berkurang,” ujar salah seorang penduduk Selabintana yang rumahnya terendam. Ia menambahkan bahwa dalam lima tahun terakhir, pembangunan kafe dan destinasi wisata meningkat tajam di kawasan atas.

Sementara itu, di Indramayu, rob kembali merendam wilayah pesisir termasuk Eretan dan sejumlah desa di kawasan Balongan. Fenomena ini dinilai semakin sering terjadi akibat kombinasi pasang laut dan penurunan muka tanah. Di beberapa lokasi, warga mengaku rob kini terjadi meski tanpa hujan.
“Kami seperti hidup menunggu air masuk,” kata seorang nelayan setempat. Ia menegaskan bahwa tanggul yang ada sudah tidak mampu menahan gelombang yang datang setiap pekan.
Di Sumatera Barat, hujan lebat memicu tanah longsor yang menutup jalan lintas dan merusak rumah warga. Pengamatan BNPB menyebutkan bahwa kondisi tanah di sejumlah titik sudah labil akibat pembukaan lahan dan penebangan yang tidak terkendali.
// BACA JUGA :Warga Dua Desa di Sukabumi Tuntut Pengembalian Sertifikat Tanah yang Disewa Koperasi Bina Usaha ( KBU ) Sejak 2012
Sejumlah pengamat menilai bahwa bencana beruntun ini bukan sekadar akibat perubahan iklim atau fenomena cuaca ekstrem. Ada faktor struktural yang jauh lebih serius: kelemahan infrastruktur dasar dan pelanggaran tata ruang yang dibiarkan bertahun-tahun.
Drainase perkotaan di banyak kota besar tidak dirancang untuk menampung volume air saat ini. Saluran lama tidak diperbarui, pemeliharaan tidak konsisten, dan sedimentasi dibiarkan menumpuk. Di wilayah pegunungan, pembangunan vila dan objek wisata mengambil alih area resapan kritis, menyebabkan air hujan mengalir langsung ke bawah tanpa hambatan.
“Masalahnya bukan hanya hujan deras, tetapi bagaimana air kehilangan tempat untuk kembali ke tanah,” ujar seorang ahli tata ruang nasional.
Di kawasan pesisir, penurunan muka tanah tidak ditangani serius. Proyek tanggul raksasa hanya menyasar kota-kota besar, sementara desa-desa pesisir dibiarkan menghadapi dampak rob tanpa perlindungan memadai.
Minim Mitigasi dan Tidak Ada Evaluasi Serius
Kritik juga mengarah pada kurangnya sistem mitigasi yang terintegrasi. Pemerintah daerah dan pusat dinilai tidak melakukan evaluasi menyeluruh pasca tiap bencana. Program peringatan dini sering kali tidak berfungsi maksimal, dan masyarakat tidak dibekali edukasi yang cukup.
Beberapa daerah bahkan tidak memiliki peta rawan bencana yang mutakhir. Kondisi ini membuat pembangunan berjalan tanpa mempertimbangkan risiko jangka panjang.
“Setiap tahun bencana terulang dengan pola yang sama, tetapi solusi yang diberikan tidak pernah menyentuh akar masalah,” kata seorang aktivis lingkungan.
Seruan Perubahan
Dengan semakin seringnya bencana hidrometeorologi, para pakar menilai Indonesia tidak bisa lagi menunda pembenahan infrastruktur dan penataan ruang. Pemerintah diminta memperketat izin pembangunan, memperbarui sistem drainase, memperluas ruang terbuka hijau, serta mengembalikan fungsi lahan kritis.
Sementara itu, masyarakat diminta turut berperan menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah ke saluran air dan mengawasi pembangunan yang berpotensi merusak resapan.
Bencana beruntun ini menjadi peringatan keras. Tanpa langkah korektif yang tegas dan terukur, kerugian setiap tahun hanya akan bertambah besar—dan nyawa manusia tetap menjadi taruhannya.
ADMIN
