BBC MEDIA.NEWS -SUKABUMI – Di tengah musim hujan, warga Desa Sukamanis, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, justru mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi ini terungkap setelah salah seorang warga memanfaatkan media sosial untuk meluapkan kekesalannya pada awal Desember 2025.
// BACA JUGA :AKSI PEDULI : PAGUYUBAN TATHYA DHARAKA AKPOL 2005 KIRIM RIBUAN PAKET SEMBAKO UNTUK KORBABENCANA DI SUMATRA
Melalui akun Facebook bernama Teguh, warga tersebut mempertanyakan kepada publik tentang instansi mana yang harus dihubungi ketika warga mengalami kesusahan air. Unggahan itu pun mendapat banyak reaksi dari netizen yang mempertanyakan bagaimana sebuah kampung yang berada di kaki Gunung Gede dapat mengalami krisis air bersih di musim penghujan.

Saat dikonfirmasi Bbcmedia.news pada Sabtu (6/12/2025), Teguh membenarkan bahwa warga di wilayahnya menggunakan air dari program Pamsimas yang dibangun pemerintah beberapa tahun lalu, dengan tarif mulai Rp 40 sampai dengan Rp150 ribu per bulan.
Ia mengaku pernah sengaja menunggak hingga tujuh bulan sebagai bentuk protes karena air jarang mengalir. Meski akhirnya melunasi total tunggakan sebesar lebih dari Rp2 juta,namun pelayanan air tidak juga membaik.
// BACA JUGA : KELUARGA PASIEN RSUD BUNUT: “KALAU TIDAK ADA PAK KADES, KAMI TIDAK BISA PULANG”
“Air hanya mengalir seminggu sekali. Padahal kami bayar rutin. Saya buat status supaya viral, biar didengar pemerintah dan pengelola Pamsimas. Kepala desa selama ini seperti tidak pernah mendengar kesusahan warga,” ungkapnya.
Menurut Teguh, dengan rata-rata iuran Rp40 ribu per rumah per bulan, pengelola seharusnya mampu melakukan perawatan dan memberikan pelayanan yang layak kepada masyarakat.apalagi bahwa Pamsimas tersebut pernah mendapat dukungan sebagian anggaran dari Dana Desa.
Ditemui terpisah pada Senin (8/12/2025), Kepala Desa Sukamanis, Ade Irawan, membenarkan bahwa tiga kampung—Cisarua, Kebon Kawung, dan Galunggung—bergantung pada aliran Pamsimas. Ia juga tidak membantah bahwa pasokan air tidak mengalir setiap hari.
“Memang benar air tidak setiap hari mengalir. Sumber mata airnya satu, tetapi dipakai oleh dua jalur, yaitu TARKIMSI dan Pamsimas,” jelas Ade.
Ade menambahkan bahwa Pamsimas saat ini melayani lebih dari 400 pelanggan, namun hanya sekitar setengahnya yang rutin melakukan pembayaran. Hal tersebut membuat pengelola kesulitan melakukan perbaikan, terutama ketika musim hujan menyebabkan kerusakan pipa akibat longsor.
“Kalau ada kerusakan, sering kali diperbaiki secara gotong royong. Bukannya tidak mau memperbaiki, tapi dana dari pelanggan memang terbatas,” ujarnya.
// BACA JUGA : KEJARI SUKABUMI TANGKAP DUA TERSANGKA KORUPSI : DANA RETRIBUSI WISATA, RUGI NEGARA RP 466 JUTA
Ade juga membantah adanya denda bagi warga yang telat membayar iuran.Meski demikian, Dana Desa dapat digunakan secara bertahap untuk mengatasi masalah air bersih dengan membuat sumur Bor Tanah namun harus melalui usulan masyarakat dan sesuai prioritas pembangunan desa.
“Sampai sekarang belum ada usulan dari masyarakat untuk pembuatan sumur bor sebagai solusi jangka panjang,” tegasnya.
Kondisi kesulitan air bersih di musim hujan ini menjadi ironi bagi warga Desa Sukamanis. Perbedaan pernyataan antara warga dan pemerintah desa menunjukkan perlunya komunikasi yang lebih terbuka serta perencanaan penyediaan air bersih yang lebih efektif.
Masyarakat berharap ada langkah konkret dari pengelola Pamsimas, pemerintah desa, dan instansi terkait agar pelayanan air bersih dapat kembali normal.
INDRA/NANDAR
