BBC MEDIA.NEWS – SUKABUMI – Di lapangan, realita dunia konstruksi hari ini tidak sesederhana angka pertumbuhan atau banyaknya proyek yang berjalan. Ada kegelisahan yang sama-sama dirasakan, baik oleh pencari kerja maupun pemilik proyek. Yang satu merasa sulit mendapatkan pekerjaan yang pasti, sementara yang lain justru kebingungan mencari pekerja yang benar-benar mampu mengerjakan pekerjaan yang ada.
// BACA JUGA :Warga Dua Desa di Sukabumi Tuntut Pengembalian Sertifikat Tanah yang Disewa Koperasi Bina Usaha ( KBU ) Sejak 2012
Situasi ini menciptakan paradoks. Di tengah banyaknya proyek pembangunan, tenaga kerja kompeten justru terasa langka. Banyak pemilik proyek mengaku sudah mencoba berbagai cara—memasang pengumuman, mengandalkan rekomendasi, hingga merekrut secara informal—namun hasilnya sering mengecewakan. Pekerja yang datang tidak sesuai klaim kemampuan, minim pengalaman, atau tidak bertahan lama di lapangan.
Di sisi lain, para pencari kerja juga tidak berada pada posisi yang lebih baik. Informasi pekerjaan sering kali tidak jelas, berpindah dari satu grup pesan ke grup lain tanpa sumber yang dapat diverifikasi. Dalam kondisi terdesak, tidak sedikit yang akhirnya terjebak penipuan berkedok lowongan kerja proyek.
// BACA JUGA : LSM ANNAHL SOROTI DUGAAN HIBAH FIKTIF KESRA KABUPATEN SUKABUMI,DESAK APH TURUN TANGAN
Inilah ruang abu-abu yang selama ini luput dari perhatian serius: tidak adanya sistem yang mampu menjembatani kebutuhan pekerja dan pemilik proyek secara profesional dan terpercaya. Di sinilah peran Aggregator & Verifier Tenaga Kerja menjadi sangat krusial.
Aggregator bukan sekadar pengumpul data. Ia berfungsi sebagai penghubung ekosistem—memetakan keahlian, pengalaman, dan kesiapan kerja tenaga konstruksi. Sementara verifier memastikan bahwa setiap data memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar klaim sepihak.
// BACA JUGA : Kurangnya Pemahaman Masyarakat Jadi Tantangan dalam Transparansi Dana Desa dan PAD
Dengan sistem ini, pencari kerja tidak lagi hanya “berharap” pada informasi yang beredar, dan pemilik proyek tidak perlu berjudi dengan kualitas tenaga kerja. Lebih jauh, keberadaan aggregator dan verifier dapat membangun kembali kepercayaan yang saat ini kian terkikis di sektor konstruksi.
Tanpa pembenahan sistemik, masalah ini akan terus berulang. Proyek tertunda, pekerja dirugikan, dan ruang penipuan semakin lebar. Sudah saatnya sektor konstruksi tidak hanya membangun fisik, tetapi juga membangun ekosistem ketenagakerjaan yang lebih tertata, transparan, dan berkeadilan.
Admin / RA
