BBC MEDIA.NEWS – SUKABUMI – Ancaman gempa megathrust dan tsunami kembali menjadi perhatian serius di Indonesia seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap aktivitas lempeng tektonik yang terus bergerak secara alami. Sejumlah pakar kebencanaan mengingatkan bahwa Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik, wilayah yang sangat rentan terhadap gempa bumi besar dan tsunami akibat pertemuan beberapa lempeng tektonik dunia.
// BACA JUGA : 13 Tahun Sertifikat Tanah Warga Belum Kembali, Warga Dua Desa di Sukabumi Tagih Janji Koperasi
Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia di sepanjang zona subduksi Sumatera–Jawa–Nusa Tenggara dikenal sebagai salah satu sumber gempa megathrust paling berbahaya. Energi yang terakumulasi selama puluhan hingga ratusan tahun berpotensi dilepaskan dalam satu peristiwa gempa besar, yang dapat memicu tsunami dengan dampak luas, terutama di wilayah pesisir.

Dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas kegempaan dengan magnitudo menengah yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dinilai sebagai pengingat bahwa dinamika lempeng tektonik terus berlangsung. Meski gempa-gempa tersebut tidak selalu berpotensi tsunami, para ahli menegaskan bahwa potensi gempa besar tetap ada dan tidak bisa diabaikan.
// BACA JUGA : Warga Dua Desa di Sukabumi Tuntut Pengembalian Sertifikat Tanah yang Disewa Koperasi Bina Usaha ( KBU ) Sejak 2012
Pemerintah melalui lembaga terkait terus memperkuat sistem pemantauan dan peringatan dini tsunami, termasuk optimalisasi jaringan seismograf, buoy tsunami, serta peningkatan kecepatan penyebaran informasi kepada masyarakat. Namun demikian, kesiapan masyarakat dinilai sama pentingnya dengan kesiapan teknologi.

Edukasi kebencanaan, pemahaman jalur evakuasi, serta latihan simulasi dinilai krusial untuk meminimalkan risiko korban jiwa jika bencana besar benar-benar terjadi. Wilayah pesisir yang berada dekat dengan zona subduksi diimbau untuk tidak panik, namun tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari otoritas berwenang.
// BACA JUGA : CAMAT SUKABUMI GERAK CEPAT ATASI BANJIR,RELA TURUN TANGAN DAN GUNAKAN DANA PRIBADI
Para pakar menekankan bahwa gempa megathrust tidak dapat diprediksi secara pasti waktu kejadiannya. Oleh karena itu, pendekatan mitigasi berbasis kesiapsiagaan menjadi kunci utama. Masyarakat diharapkan tidak terjebak informasi menyesatkan, melainkan meningkatkan literasi kebencanaan sebagai bagian dari upaya membangun ketangguhan nasional.
Ancaman megathrust dan tsunami bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai pengingat bahwa hidup berdampingan dengan alam membutuhkan kesiapan, kesadaran, dan kolaborasi semua pihak.
ADMIN
