Penyampaian Materi oleh tim PM di Asrama Yatim, Piatu & Dhuafa, Jalan Ki Hajar Dewantara, Cikarang Utara. Sumber: Dok. Istimewa
BBCMedia.News – Mengajarkan nilai-nilai sosial yang kompleks seperti toleransi dan empati kepada anak-anak sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua maupun pendidik. Metode ceramah konvensional kerap membuat anak merasa bosan dan sulit mencerna inti pelajaran. Namun, sebuah terobosan menarik baru saja dilakukan oleh mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI). Mereka membuktikan bahwa menanamkan karakter mulia bisa dilakukan dengan cara yang sangat menyenangkan: melalui permainan edukatif.
Kegiatan inspiratif ini merupakan bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Manajemen UBSI. Dengan mengusung tema “Mewujudkan Generasi Berakhlak Mulia Melalui Pendidikan Toleransi Dan Empati Sosial”, para mahasiswa ini terjun langsung ke Yayasan Rumah Harapan Cikarang Utara. Lantas, bagaimana cara seru mengajarkan toleransi yang mereka terapkan? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Sebelum membahas metodenya, kita perlu memahami mengapa pendidikan karakter ini sangat mendesak. Berdasarkan analisis situasi di lapangan, anak-anak yang tumbuh di lingkungan panti asuhan atau komunitas tertutup sering kali menghadapi tantangan dalam memahami perbedaan. Mereka cenderung hanya berinteraksi dengan teman yang memiliki pandangan atau latar belakang yang sama.
Tanpa pembekalan yang tepat sejak dini, anak-anak berpotensi memiliki sikap yang kurang menghargai keberagaman di sekitarnya. Lebih jauh lagi, penggunaan media sosial tanpa filter sering memaparkan mereka pada konten yang menonjolkan konflik antar kelompok, yang bisa memicu prasangka buruk. Oleh karena itu, pendekatan yang segar dan relevan sangat dibutuhkan untuk mengubah cara pandang mereka terhadap perbedaan.
Melihat tantangan tersebut, tim mahasiswa UBSI yang diketuai oleh Arnindita Rahma Danisya mengambil langkah nyata. Mereka menyadari bahwa anak-anak membutuhkan pendampingan untuk memahami perbedaan serta mengelola sikap sosial yang positif.
Kegiatan yang dilaksanakan pada pertengahan Desember 2025 ini bertempat di Asrama Yatim, Piatu & Dhuafa, Jalan Ki Hajar Dewantara, Cikarang Utara. Tim pelaksana yang terdiri dari 6 orang mahasiswa ini tidak datang untuk sekadar memberi santunan, melainkan membawa misi edukasi yang dikemas dalam kegembiraan. Mereka merancang program yang mengubah suasana belajar kaku menjadi arena bermain yang penuh makna.
Mengapa harus permainan? Jawabannya sederhana: dunia anak adalah dunia bermain. Dalam laporannya, tim PKM UBSI mencatat bahwa salah satu kendala utama di mitra adalah kurangnya pemanfaatan teknologi dan media visual yang menarik dalam pembelajaran. Metode konvensional sering kali gagal menangkap perhatian anak dalam waktu lama.
Melalui pendekatan edukatif yang melibatkan games, anak-anak tidak merasa sedang digurui. Mereka belajar sambil berinteraksi, tertawa, dan berkompetisi secara sehat. Strategi ini terbukti efektif membuat anak-anak lebih aktif dalam memahami nilai-nilai sosial secara mendalam dibandingkan sekadar mendengarkan teori di kelas.
Tim mahasiswa UBSI menerapkan beberapa metode kreatif untuk menyampaikan pesan toleransi dan empati. Berikut adalah rincian aktivitas seru yang bisa Anda adaptasi untuk mengajarkan nilai serupa di rumah atau sekolah:
- Menonton Video Edukasi dan Diskusi Ringan Langkah pertama adalah visualisasi. Panitia menayangkan video edukasi yang menggambarkan keindahan keberagaman. Setelah menonton, mereka mengadakan sesi diskusi ringan. Di sini, anak-anak diajak berbicara tentang apa yang mereka lihat. Metode ini melatih mereka untuk menjadi pendengar yang baik dan menghargai pendapat teman yang berbeda.
- Permainan Edukatif (Mini Games) Ini adalah sesi yang paling ditunggu. Mini games dirancang untuk membangun kerja sama tim. Dalam permainan ini, anak-anak harus bahu-membahu dengan teman yang mungkin memiliki sifat berbeda untuk mencapai tujuan bersama. Secara tidak sadar, mereka mempraktikkan toleransi dan kekompakan langsung di lapangan.
- Kuis dan Storytelling Tim UBSI juga menggunakan metode bercerita (storytelling) tentang tokoh-tokoh inspiratif yang mencontohkan sikap toleransi. Cerita yang dikemas menarik akan lebih mudah diingat oleh anak-anak. Sesi ini ditutup dengan kuis berhadiah yang memicu semangat kompetisi positif mereka.
Salah satu poin penting yang diangkat dalam kegiatan ini adalah literasi digital. Kita tidak bisa memungkiri bahwa anak-anak zaman sekarang sangat lekat dengan gawai. Namun, belum ada ruang pembelajaran kreatif yang menghubungkan teknologi dengan pendidikan karakter.
Mahasiswa UBSI mengisi celah ini dengan mengarahkan anak-anak memanfaatkan teknologi sebagai sarana positif. Alih-alih hanya menjadi konsumen konten hiburan pasif, anak-anak didorong untuk memahami bagaimana teknologi bisa digunakan untuk membuat konten yang mencerminkan nilai toleransi dan kebersamaan. Ini adalah langkah krusial untuk membentengi mereka dari dampak negatif media sosial.
Apakah metode “belajar sambil bermain” ini efektif? Data dari laporan kegiatan menunjukkan hasil yang luar biasa. Sebelum kegiatan berlangsung, sebagian besar peserta hanya mengetahui konsep toleransi secara umum namun bingung penerapannya.
Setelah mengikuti rangkaian games dan edukasi dari kakak-kakak mahasiswa UBSI, terjadi peningkatan signifikan. Evaluasi menunjukkan adanya kenaikan pengetahuan dan pemahaman materi hingga mencapai angka 90%. Tidak hanya itu, keterampilan praktis mereka dalam menerapkan sikap toleransi juga meningkat hingga 85%.
Para peserta mengaku sangat puas dan merasa terbantu. Mereka menjadi lebih percaya diri untuk mengimplementasikan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membuktikan bahwa metode yang menyenangkan justru menghasilkan dampak yang lebih melekat di ingatan anak.
Berkaca dari kesuksesan kegiatan PKM UBSI ini, ada beberapa tips yang bisa diterapkan oleh orang tua maupun pengelola lembaga pendidikan untuk menjaga semangat toleransi tetap menyala:
- Jadikan Rutinitas: Nilai toleransi tidak bisa diajarkan dalam satu malam. Perlu adanya pembiasaan berkelanjutan, misalnya menyisipkan pesan moral dalam kegiatan harian atau saat berkumpul bersama.
- Contoh Nyata: Anak-anak adalah peniru ulung. Orang dewasa harus memberikan contoh nyata sikap saling menghargai dan membantu satu sama lain di lingkungan sekitar.
- Kolaborasi: Sekolah atau panti asuhan sebaiknya membuka diri terhadap kerja sama dengan pihak luar, seperti universitas atau komunitas sosial. Kolaborasi seperti ini memberikan wawasan baru dan sumber daya tambahan yang menyegarkan bagi anak-anak.
Kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa UBSI di Cikarang Utara ini bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah langkah konkret pembinaan karakter mulia sejak dini agar anak-anak siap menjadi generasi muda yang berkepribadian baik dan beretika.
Melalui perpaduan materi agama, simulasi sosial, dan permainan edukatif, kita dapat membantu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kepedulian sosial. Harapannya, mereka kelak mampu menjadi Rahmatan lil ‘Alamin atau pembawa kasih sayang bagi seluruh alam dan lingkungan sekitarnya.
Mari kita mulai mengajarkan toleransi dengan cara yang seru. Karena belajar empati tidak harus membosankan, dan masa depan bangsa yang damai dimulai dari senyum anak-anak kita hari ini.
