BBC MEDIA.NEWS -SUKABUMI – Di tengah maraknya alih fungsi lahan dan semakin sempitnya ruang garap, Kelompok Tani Pusaka Pasir Kamulyaan tidak hanya hadir sebagai organisasi petani di Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi. Kini, kelompok ini menegaskan diri sebagai wadah besar bagi petani milenial dan sebagai gerakan pertanian skala nasional .
// BACA JUGA :SERTIFIKAT WARGA 2 DESA DI SUKABUMI MENJADI JAMINAN DI BANK OLEH KOPRASI DAN TERANCAM TERLELANG
Dengan AD/ART yang kokoh, kelompok ini membangun landasan perjuangannya melalui nilai-nilai lokal, keberanian, keterbukaan, dan ketahanan pangan.
AD ART POKTAN KAMULYAAN

Nama Pusaka Pasir Kamulyaan memiliki makna mendalam: pusaka sebagai warisan leluhur, pasir sebagai simbol tanah subur, dan kamulyaan sebagai cita-cita akan kesejahteraan hidup bersama. Filosofi ini dipertegas melalui lambang organisasi yang menampilkan kujang, padi-kapas, dan lumbung padi—representasi komitmen terhadap kemakmuran dan gotong royong.
AD ART POKTAN KAMULYAAN
Bukan Sekadar Kelompok Tani, Tetapi Ruang Kebangkitan Petani Milenial
Pusaka Pasir Kamulyaan melihat perubahan zaman sebagai peluang. Dalam era modern ini, sektor pertanian tidak boleh hanya diisi generasi lama. Karena itu, kelompok ini kini secara aktif menjadi wadah petani milenial yang ingin belajar, berkarya, dan mengembangkan inovasi pertanian berkelanjutan.
Petani milenial membutuhkan panggung—dan kelompok ini menyediakannya.
Mereka membuka ruang untuk generasi baru:
– yang ingin memadukan teknologi dengan pertanian,
– yang melihat perkebunan sayur sebagai peluang masa depan,
– yang memiliki semangat wirausaha,
– yang percaya bahwa pertanian adalah profesi bermartabat.

// BACA JUGA :Warga Dua Desa di Sukabumi Tuntut Pengembalian Sertifikat Tanah yang Disewa Koperasi Bina Usaha ( KBU ) Sejak 2012
Gerakan ini bahkan tidak lagi terbatas pada Sukabumi atau Jawa Barat.
Pusaka Pasir Kamulyaan kini memosisikan dirinya sebagai wadah kolaborasi petani dalam skala nasional—dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara—untuk bersama-sama memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
AD/ART sebagai Kompas Perjuangan Nasional
Dalam Pasal 5 AD/ART, tujuan kelompok ditegaskan: meningkatkan kesejahteraan, menciptakan ketersediaan sarana produksi, memperkuat potensi pertanian, dan mendorong usaha produktif.
AD ART POKTAN KAMULYAAN
Tujuan ini tidak hanya relevan untuk desa Pasir Kamulyaan—tetapi juga menjadi cerminan kebutuhan petani Indonesia secara luas.
Ketika banyak lahan produktif berubah menjadi permukiman atau industri, persoalan yang dihadapi petani di Sukabumi sejatinya adalah cermin persoalan nasional: tanah semakin terdesak, ruang garap semakin hilang, dan nasib petani semakin rentan.
Lewat kelompok ini, petani milenial dari berbagai daerah dapat belajar tentang manajemen kelompok, pengelolaan administrasi, dan pentingnya memperjuangkan hak atas lahan.
Karena dalam AD/ART Pasal 11 ditegaskan bahwa musyawarah adalah kekuasaan tertinggi—ruh demokrasi yang harus tetap dijaga dalam setiap gerakan petani.
AD ART POKTAN KAMULYAAN
Lahan Garap: Ruang Hidup yang Harus Dipertahankan
Pusaka Pasir Kamulyaan memandang lahan sebagai ruang hidup:
bukan sekadar tempat menanam, tetapi tempat membesarkan harapan.
Sayuran yang dihasilkan—kol, cabai, tomat, kentang, daun bawang—adalah bukti nyata bahwa tanah perkebunan adalah titik pusat ketahanan pangan desa dan kota.
Namun hari ini, lahan-lahan itu kian menyempit.
Di banyak wilayah Indonesia, tekanan ekonomi membuat petani kehilangan ruang garapnya.
“Bagaimana kita menjaga tanah ini agar tetap jadi milik anak cucu kita?”
Pertanyaan itu menjadi gema nasional yang muncul dari musyawarah para petani Pusaka Pasir Kamulyaan.
Ketika Petani Jatuh, Kita Semua Turut Jatuh
Pertanian adalah fondasi bangsa.
Tanpa petani, harga pangan naik.
Tanpa lahan garap, produksi pangan runtuh.
Tanpa ruang bagi petani milenial, masa depan pertanian Indonesia terancam kosong.
Karena itu, berdirinya Pusaka Pasir Kamulyaan sebagai wadah nasional bukanlah sekadar pembentukan organisasi, melainkan gerakan kebangkitan petani Indonesia.
Seruan dari Sukabumi untuk Nusantara
Dari satu titik kecil di Caringin, sebuah suara kini meluas ke seluruh penjuru negeri:
“Pertanian bukan profesi masa lalu—ini adalah masa depan bangsa.”
“Lahan garap bukan sekadar tanah—ini adalah ruang hidup yang harus diperjuangkan.”
“Petani milenial adalah garda baru pertanian Indonesia.”
Dengan demikian, Pusaka Pasir Kamulyaan hadir bukan hanya untuk Sukabumi,
tetapi untuk Indonesia..
Adnin
