
BBCMedia News – Sedikitnya 24 orang tewas dan lebih dari 23.000 warga dievakuasi akibat kebakaran hutan yang melanda wilayah tenggara Korea Selatan. Sebagian besar korban berusia 60 hingga 70 tahun, sementara 26 orang lainnya mengalami luka-luka, dengan 12 di antaranya dalam kondisi kritis.
Pelaksana tugas Presiden Korea Selatan, Han Duck-soo, menyebut kebakaran ini sebagai “krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya”, yang bahkan mencatat rekor sebagai kebakaran hutan terparah dalam sejarah negara itu.
Kebakaran Menghancurkan Situs Bersejarah
Salah satu dampak paling mencolok dari kebakaran ini adalah hancurnya Kuil Gounsa di Uiseong, yang telah berdiri selama 1.300 tahun sejak tahun 618 M. Banyak relik budaya berharga berhasil diselamatkan sebelum api melalap bangunan utama.
Selain itu, sebuah bangunan arsitektur Buddha dari Dinasti Joseon (1392-1910) yang dianggap sebagai harta nasional Korea Selatan juga dipastikan musnah oleh otoritas kehutanan.
Penyebab dan Penyebaran Kebakaran
Kebakaran pertama kali muncul pada Jumat (22/3) di Kabupaten Sancheong, sebelum menyebar ke Uiseong, Andong, Cheongsong, Yeongyang, dan Gyeongbuk. Cuaca kering dan angin kencang menyebabkan api dengan cepat meluas ke area yang lebih luas.
Hingga Selasa (26/3), Badan Pemadam Kebakaran Nasional Korea telah menaikkan status krisis ke tingkat tertinggi. Lebih dari 5.000 personel militer, ribuan petugas pemadam kebakaran, serta helikopter milik militer AS yang ditempatkan di Korea telah dikerahkan untuk mengendalikan api.
Pada Rabu (27/3), sebuah helikopter pemadam kebakaran jatuh di pegunungan Uiseong, menewaskan sang pilot. Penyebab kecelakaan masih dalam penyelidikan.
Kisah Korban: “Seperti Kiamat”
Banyak warga yang kehilangan rumah mereka akibat kebakaran. Seorang warga di Andong mengungkapkan, “Rumah kami benar-benar terbakar habis. Hampir semuanya runtuh.”
Sementara itu, seorang pria berusia 30 tahun di Uiseong mengatakan, “Rumah di lantai atas dan sebelahnya juga terbakar. Di sini banyak orang tua yang telah tinggal seumur hidup mereka. Ketika rumah mereka terbakar, mereka tidak punya tempat untuk pergi.”
Di Andong, seorang sopir truk bernama Lee Seung-joo mengatakan ia menyaksikan gunung-gunung terbakar saat berkendara. “Rasanya seperti kiamat,” ujarnya.
Dampak Lingkungan dan Upaya Pemadaman
Hingga saat ini, lebih dari 17.000 hektar (42.000 acre) hutan telah terbakar, menjadikannya kebakaran terbesar ketiga dalam sejarah Korea Selatan berdasarkan luas area yang terdampak.
Namun, kondisi cuaca memperburuk upaya pemadaman. Presiden Han menyatakan bahwa angin kencang masih menghambat proses pemadaman dan penyelamatan.
Pemerintah berharap turunnya hujan dapat membantu memadamkan api, tetapi menurut Badan Meteorologi Korea, hanya 5-10 mm hujan yang diperkirakan turun pada Kamis (28/3), yang kemungkinan tidak cukup untuk menghentikan kebakaran sepenuhnya.
Langkah Pemerintah: Pencegahan Kebakaran di Masa Depan
Korea Selatan telah mengalami musim kering yang lebih panjang dari biasanya, dengan curah hujan yang lebih sedikit dibandingkan rata-rata tahunan. Pada tahun ini saja, telah terjadi 244 kebakaran hutan, 2,4 kali lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah berjanji akan memperketat penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, yang merupakan salah satu penyebab utama kebakaran hutan. Selain itu, tindakan tegas juga akan diterapkan untuk mencegah kelalaian individu yang dapat memicu bencana serupa di masa mendatang.
Sumber : BBC
Hello http://bbcmedia.news/fekal0911 Webmaster