Foto: Dok. Pribadi, gambar diambil pada saat penulis melalukan observasi di RA Nafizzatul Ilmi | Penulis: Ahmad Baihaqi dan Alifian Rizki Suwanda
Setiap sore, ketika anak-anak sekolah dasar lain mungkin sudah asyik bermain gadget atau menonton televisi, tapi di Desa Tajurhalang tepatnya di Kampung Karet Kawasan Kabupaten Bogor, puluhan anak kecil berjalan menuju sebuah musala sederhana dengan membawa buku Iqra dan Al-Qur’an di tangan. Mereka duduk bersila, mata berbinar, menunggu seorang guru yang tidak pernah absen hadir—bukan karena terikat kontrak, bukan karena gaji yang menggiurkan, melainkan karena rasa tanggung jawab yang tulus terhadap generasi penerus.
Pemandangan seperti ini bukan hal asing di Indonesia. Taman Pendidikan Al-Qur’an, atau yang akrab disebut TPA, adalah salah satu institusi pendidikan non-formal paling berpengaruh dalam kehidupan anak-anak Muslim Indonesia. Jutaan anak belajar membaca Al-Qur’an, mengenal huruf hijaiyah, hingga menempa akhlak dan kebiasaan ibadah mereka pertama kali di ruang-ruang sederhana seperti ini. Namun di balik peran besar itu, pertanyaan penting sering kali luput dari perhatian: seberapa matang kompetensi pedagogik guru-guru TPA yang menjadi ujung tombak pendidikan ini?
Pendidikan yang Hidup di Luar Sistem
Di RA Nafizzatul Ilmi, kami berkesempatan melakukan observasi langsung terhadap proses pembelajaran TPA. Sekitar 30 santri duduk dalam satu kelas, jumlah yang tidak sedikit untuk sebuah ruang belajar dengan segala keterbatasan sarana yang ada. Namun yang menarik bukan soal angkanya, melainkan bagaimana sang guru mampu menyulap keterbatasan itu menjadi ruang belajar yang hidup dan hangat.
TPA bukan sekadar lembaga pengajaran membaca Al-Qur’an. Ia adalah ekosistem pendidikan karakter yang bekerja diam-diam di luar radar kebijakan pendidikan formal. Tidak ada kurikulum nasional yang ketat, tidak ada ujian nasional, tidak ada tunjangan profesi. Yang ada hanyalah dedikasi guru dan kepercayaan orang tua. Di sinilah kompetensi pedagogik kemampuan guru memahami murid, mengelola pembelajaran, dan menciptakan suasana belajar yang efektif, menjadi satu-satunya modal utama.
Lapangan Berbicara: 75 Persen Bukan Sekadar Angka
Observasi menggunakan instrumen kompetensi pedagogik yang diadaptasi untuk pembelajaran kelompok besar menghasilkan skor 39 dari total 52 poin, atau setara 75 persen dengan kategori “Baik”. Tapi angka ini tidak akan berbicara banyak jika tidak diterjemahkan ke dalam realitas yang terjadi di dalam kelas.
Yang pertama kali tampak adalah bagaimana guru membangun kedekatan emosional dengan muridnya. Sebelum memulai pelajaran, ia menanyakan kabar anak-anak, melontarkan pertanyaan-pertanyaan kecil yang sederhana, hal yang tampak sepele, tetapi secara pedagogis sangat bermakna. Anak yang merasa diperhatikan akan lebih mudah membuka diri terhadap proses belajar.
Interaksi kolektif berjalan aktif sepanjang sesi pembelajaran. Tanya jawab, arahan kelas, dan tepuk tangan bersama menjadi alat sederhana namun efektif untuk menjaga atensi 30 anak sekaligus. Guru berhasil menciptakan suasana yang tidak tegang, tidak kaku, tetapi tetap terarah. Anak-anak terlihat nyaman, dan rasa nyaman adalah prasyarat utama agar belajar benar-benar terjadi.
Guru yang Tahu Cara Membaca Anak
Ketika saya menanyakan langsung kepada guru bagaimana ia memahami kompetensi pedagogik dalam konteks TPA, jawabannya tidak mengutip teori pendidikan mana pun. Namun substansinya justru sangat mendalam:
“Kompetensi pedagogik itu bukan hanya soal mengajar ngaji. Kita harus bisa memahami karakter anak, mengelola pembelajaran, memilih metode yang tepat, dan membimbing anak belajar Al-Qur’an sekaligus membangun akhlak dan kebiasaan ibadah mereka.”
Pemahaman seperti ini tidak diperoleh dari bangku kuliah pendidikan, melainkan dari pengalaman langsung bertahun-tahun menghadapi berbagai karakter anak. Guru TPA yang baik adalah pengamat ulung. Ia tahu anak mana yang butuh pendekatan lembut, anak mana yang perlu ditantang, dan anak mana yang sedang mengalami masalah di rumah meskipun tidak pernah mengatakannya.
Dalam hal diferensiasi metode, guru menyesuaikan pendekatan berdasarkan usia dan kemampuan. Untuk anak yang lebih kecil, metode bermain sambil belajar, nyanyian, dan pengulangan bacaan perlahan menjadi pilihan utama. Untuk anak yang lebih besar, latihan membaca mandiri, tanya jawab, dan praktik langsung lebih dominan. Pembagian kelompok belajar berdasarkan kemampuan juga dilakukan untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal terlalu jauh atau justru merasa bosan karena materi terlalu mudah.
Tantangan Nyata: Tiga Puluh Anak, Satu Guru
Satu hal yang sulit diabaikan dalam observasi ini adalah tantangan yang datang dari jumlah peserta didik yang cukup besar dalam satu kelas. Dengan 30 santri, diferensiasi pembelajaran menjadi tantangan tersendiri yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan niat baik.
Guru mengakui dengan jujur kondisi tersebut: perbedaan kemampuan anak yang sangat beragam, fokus belajar yang naik turun, kehadiran yang tidak selalu rutin, hingga beberapa anak yang belum mendapat pendampingan belajar memadai di rumah. Saat sesi menulis berlangsung, misalnya, ada anak yang cepat selesai dan mulai gaduh, sementara yang lain masih berjuang menyelesaikan tulisan mereka.
Ironisnya, kondisi ini bukan sesuatu yang unik di RA Nafizzatul Ilmi. Ini adalah potret umum TPA di seluruh Indonesia. Minimnya tenaga pengajar, keterbatasan ruang kelas, dan tidak adanya standar rasio guru-murid yang jelas membuat guru TPA kerap harus menjadi satu-satunya “sistem” yang berfungsi di dalam kelas.
Lalu bagaimana sang guru menyiasatinya? Dengan satu kata: kreativitas.
“Kami menyisipkan lagu, menulis dengan variasi berbeda setiap harinya, kadang Bahasa Indonesia, kadang huruf hijaiyah, kadang mewarnai atau matematika sederhana, agar anak tidak jenuh. Sesekali ada tebak-tebakan sebelum pulang. Yang penting, anak merasa senang datang ke sini.”
Pendekatan ini, dalam bahasa ilmu pendidikan, disebut sebagai pembelajaran berbasis variasi stimulus. Tujuannya adalah mempertahankan atensi anak dengan memecah kerutinan. Guru TPA mungkin tidak menyebut istilah itu, tetapi secara intuitif mereka telah mempraktikkannya.
Refleksi: Ketika Kesabaran Adalah Metode
Di antara semua temuan observasi, ada satu hal yang paling membekas: cara guru merespons ketika anak sulit fokus atau tidak memahami materi. Tidak ada amarah, tidak ada hukuman, tidak ada teguran keras. Yang ada hanyalah kesabaran yang metodologis.
“Kalau ada anak yang kurang fokus, kami dekati secara personal. Diberi motivasi, atau diselingi permainan kecil dan tepukan singkat agar perhatian mereka kembali. Kita perlu sabar, karena kemampuan setiap anak memang berbeda-beda.”
Kesabaran di sini bukan sikap pasif. Ia adalah strategi aktif, pilihan sadar untuk tidak mempermalukan anak di hadapan teman-temannya, untuk tidak membuat belajar menjadi pengalaman traumatik. Ini adalah salah satu bentuk kompetensi pedagogik yang paling mendasar dan paling sering diabaikan dalam diskusi pendidikan formal: kemampuan guru untuk tetap hadir secara emosional ketika tekanan mengajar begitu besar.
Penilaian perkembangan bacaan pun tidak dilakukan secara kaku. Guru mendengarkan bacaan anak secara langsung setiap pertemuan, memperhatikan kelancaran, ketepatan makhraj, panjang pendek bacaan, hingga kemampuan mengenali huruf hijaiyah. Setelah sesi selesai, para guru saling bertukar catatan tentang perkembangan anak dan mencari solusi bersama untuk yang masih kesulitan. Sebuah sistem evaluasi kolaboratif yang sederhana, namun efektif.
Wajah Pendidikan Agama Indonesia yang Sesungguhnya
Ketika kebijakan pendidikan nasional sibuk membicarakan kurikulum Merdeka Belajar, digitalisasi sekolah, dan peningkatan kompetensi guru ASN, jutaan anak Indonesia justru mendapat pendidikan agama pertama mereka dari tangan guru-guru TPA yang tidak masuk dalam radar program sertifikasi mana pun.
Ini bukan sebuah kritik tanpa dasar. Data Kementerian Agama mencatat jutaan santri TPA/TPQ aktif di seluruh Indonesia. Namun dukungan sistematis terhadap peningkatan kapasitas guru-gurunya masih jauh dari memadai. Sebagian besar guru TPA meningkatkan kemampuan mereka secara mandiri, melalui pelatihan informal, diskusi sesama guru, atau sekadar belajar dari pengalaman mengajar sehari-hari.
Yang terjadi di RA Nafizzatul Ilmi adalah gambaran dari jutaan kelas TPA lain di seluruh pelosok negeri. Guru-guru yang menjalankan misi besar dengan sumber daya terbatas, membangun fondasi karakter generasi muda bukan melalui teori-teori canggih, melainkan melalui kehadiran yang konsisten, kasih sayang yang tulus, dan kreativitas yang tidak pernah berhenti.
Penutup: Guru yang Mengajar dengan Hati
Ketika saya menanyakan apa ciri guru TPA yang benar-benar kompeten secara pedagogik, jawabannya tidak mengejutkan, tetapi tetap mengharukan:
“Guru yang baik itu sabar, memahami karakter anak, bisa menjelaskan materi dengan mudah, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Yang paling penting, mengajar dengan tulus tanpa membedakan latar belakang atau status sosial anak.”
Kompetensi pedagogik, dalam konteks TPA, bukan hanya soal metode mengajar atau penguasaan kurikulum. Ia adalah tentang panggilan. Tentang pilihan untuk hadir setiap sore, menghadapi puluhan anak dengan segala keberagaman karakter dan kemampuannya, sambil tetap tersenyum dan sabar.
Skor 75 persen dari hasil observasi di RA Nafizzatul Ilmi bukan angka yang sempurna. Masih ada ruang yang perlu dibenahi, terutama soal diferensiasi pembelajaran di kelas besar dan dukungan sarana yang lebih memadai. Namun yang jauh lebih penting dari angka itu adalah fakta bahwa di banyak sudut negeri ini, masih ada guru-guru TPA yang hadir dengan penuh ketulusan, memastikan anak-anak Indonesia mengenal Al-Qur’an dan nilai-nilai luhur sejak dini.
Mereka bukan hanya pengajar ngaji. Mereka adalah penjaga nyala api peradaban, dan sudah saatnya kita mulai memperhatikan mereka lebih dari sekadar tamu undangan di acara perayaan hari besar agama.
Penulis:
Ahmad Baihaqi dan Alifian Rizki Suwanda
Penulis adalah mahasiswa pendidikan yang melakukan observasi lapangan di RA Nafizzatul Ilmi sebagai bagian dari kajian kompetensi pedagogik guru TPA pada pembelajaran kelompok.
Editor: Iing Indra/Riri
