BBC MEDIA.NEWS – SUKABUMI – Tidak dilibatkannya Kota dan Kabupaten Sukabumi dalam Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda menuai sorotan dari kalangan pegiat seni dan budaya. Satu diantaranya Ketua atau Pupuhu Padepokan Dadalipati Nusantara, Abah Alam, yang menilai hal tersebut sebagai bentuk pengabaian terhadap peran penting Sukabumi dalam sejarah panjang peradaban Sunda.

Abah Alam menyebut Tatar Sunda tanpa menghadirkan Sukabumi sama halnya dengan membicarakan Pajajaran tanpa menyebut lumbung pangannya. “Sukabumi itu jantungnya Pajajaran. Perannya sangat vital, tidak bisa dipisahkan dari sejarah Sunda,” ujarnya kepada BBC MEDIA, pada Jumat (8/5).
Ia menjelaskan, pada masa Kerajaan Pajajaran, Sukabumi merupakan wilayah strategis yang berada langsung di bawah kekuasaan Sri Baduga Maharaja. Saat itu, Sukabumi dikenal sebagai “leuit Pajajaran” atau lumbung padi yang menopang kebutuhan pangan pusat kerajaan di Pakuan.
// BACA JUGA : https://bbcmedia.news/tak-hanya-sebagai-bumbu-dapur-ternyata-bawang-putih-punya-segudang-khasiat-yuk-simak/
Selain sebagai lumbung pangan, Sukabumi juga berperan sebagai jalur perdagangan penting yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan pesisir selatan, terutama ke Palabuhanratu. Kawasan seperti Cikundul hingga Jampang menjadi jalur distribusi hasil bumi yang strategis.Dari sisi pertahanan, wilayah Sukabumi dilindungi oleh bentang alam pegunungan seperti Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak yang berfungsi sebagai benteng alami untuk melindungi pusat kerajaan dari ancaman luar.

Tak hanya itu, Abah Alam menuturkan bahwa Sukabumi juga menjadi pusat spiritual pada masa tersebut, dengan banyaknya kabuyutan dan mandala resi yang berkembang di wilayah ini.Ketika Pajajaran runtuh pada 1579 akibat serangan Banten dan Cirebon, Sukabumi menjadi jalur penting pelarian para bangsawan. Rute pelarian itu melintasi sejumlah wilayah Sukabumi hingga menuju Sumedang.
Jejak sejarah tersebut masih diyakini tersimpan dalam berbagai situs petilasan yang berkaitan dengan Prabu Siliwangi.“Bahkan dalam cerita leluhur, mahkota Binokasih Pajajaran sempat disembunyikan di wilayah Jampang Kulon,” ungkapnya.Memasuki masa Sumedang Larang, Sukabumi menjadi wilayah perbatasan antara kekuatan Sumedang, Banten, dan Cirebon, sebelum akhirnya berada di bawah kekuasaan Mataram pada abad ke-17.Ia juga menyinggung sosok R.A. Wira Tanu Datar I yang diangkat oleh Mataram sekitar 1670-an sebagai tonggak awal terbentuknya pemerintahan Sukabumi secara formal.
// BACA JUGA : https://bbcmedia.news/disperkim-sukabumi-hardiknas-2026-pendidikan-bermutu/
Pada masa kolonial, lanjut Abah Alam, tahun 1811 di era Thomas Stamford Raffles, Sukabumi dipisahkan dari Cianjur, dan pada 1870 resmi menjadi wilayah administratif tersendiri.Meski demikian, ia menegaskan bahwa jati diri Sukabumi sebagai bagian dari Tatar Sunda tidak pernah hilang. Nilai budaya seperti bahasa, aksara, dan falsafah “silih asih” tetap mengakar kuat di masyarakat.Dalam kesempatan itu, Abah Alam juga menyenggol peran pemerintah daerah, baik Kota Sukabumi maupun Kabupaten Sukabumi, agar lebih proaktif dalam memperjuangkan eksistensi budaya Sukabumi di tingkat provinsi maupun nasional.“Pemerintah daerah jangan hanya menjadi penonton.
Harus ada upaya serius untuk mendorong Sukabumi tampil dalam agenda budaya besar seperti ini. Jangan sampai sejarah besar kita justru dilupakan,” tegasnya.Ia pun menutup dengan penegasan bahwa Sukabumi memiliki posisi penting dalam perjalanan Tatar Sunda dari masa ke masa. “Sejak zaman Prabu Siliwangi hingga sekarang, termasuk di era Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Sukabumi tetap setia menjadi bagian dari Tanah Sunda,” pungkasnya.
IING INDRA / SOMDANI
